Postingan

JATUH

Apakah kamu pernah jatuh cinta? Bagaimana sih rasanya? Apakah ia seperti matahari terbit dari timur? Ataukah ia seperti matahari jatuh ke barat?

Tidak! Jatuh cinta itu… seperti hujan rasanya. Ia seperti sekumpulan air yang membentuk bola-bola kecil. Jatuh bertebaran ke hati ini. Sampai tak terhitung jumlahnya.

Jatuhnya itu lho mengharu biru. Kadang begitu deras dan berdesak-desakkan. Serta jatuhnya ke mana saja. Memenuhi ruang-ruang yang ia jumpai. Tak peduli bagaimana rupa ruangnya. Yang penting ia jatuh. Entah berdebam, entah pelan, entah menyakitkan, entah menyenangkan. Urusan belakangan. Asal jatuh, jatuh ke bumi.

Bukankah jatuh cinta juga demikian? Hatiku jatuh padamu. Tak peduli bagaimana kamu. Entah berdebam, entah pelan, entah menyakitkan, entah menyenangkan. Urusan belakangan. Asal jatuh, jatuh ke kamu.

Hujan dan jatuh cinta. Sama-sama jatuh. Rasanya pun tak terhingga. Juga tak terhitung pula. Sama-sama jatuh. Senang dan sakitnya menjadi uru…

SAAT ORANG-ORANG MENGENANG TERORIS

Aku dan orang-orang tak mengenalmu, tapi kami mengenangmu…

Detik-detik ketika bom itu meledak, orang-orang mulai berhamburan seperti serpihan kertas di atas meja. Tampak pada raut wajah mereka ada ketakutan, kesedihan, dan seribu tanya yang menyelimuti. Mengapa tiba-tiba ada bom bunuh diri? Apa salah kami? Bahkan tak sedikit yang tiba-tiba menangis sembari mencari sanak saudara mereka. Matahari tak lagi terhiraukan keberadaannya. Sinarnya terkalahkan oleh sisa-sisa ledakan bom yang telah menghancurkan sebagain besar pusat kota. Bahkan, belum usai perasaan-perasaan takut dan sedih, telah disusul oleh ledakan bom berikutnya di sudut lainnya.

Banyak dari mereka kehilangan yang dicintainya, padahal sebelumnya, mereka tertawa riang gembira melewati waktu bersama. Banyak dari mereka yang pada akhirnya takut dan bahkan sebagian besar anak-anak menjadi trauma.

Apakah bagimu itu Jihad? Membuat orang-orang takut, menangis, trauma, bahkan tak lagi percaya p…

HALO PATAH HATI

Entah, ini mungkin takdir… Kita bertemu di persimpangan jalan karena cinta. Kamu yang dipenuhi dengan warna pudar, tiba-tiba menabrakku yang tengah berlari dalam tangis, dan aku jatuh terduduk dengan rambut tergerai ke depan. Menutupi seluruh wajahku.
Lalu, katamu “maaf, aku tak sengaja...”
Aku hanya sesenggukan mendengar kata-katamu. Air mata ini semakin berjatuhan seolah saling balapan jatuh ke ubin. Bagaimana bisa kamu dengan aura sedihmu masih sempat meminta maaf padaku. Bagaimana dengan ia?
“Maaf, aku patah hati.” Kamu ulurkan tangan kananmu, berharap aku menyentuhnya dan berkata, “halo Patah Hati, kenalkan, aku....” Tidak! Mana mungkin aku akan dengan senyum manis mengatakan hal itu. Pun demikian mereka, siapa sih yang mau kenal Patah Hati?
BENTAR! Siapa sih yang pernah mengenalmu dengan baik, Patah Hati? Siapa sih yang mau bersahabat denganmu, Patah Hati? Hastaganaga… Kukira hanya orang-orang gila karena cinta yang mau dengan sepenuh hati men…

AKU MENYUKAI HUJAN

Dengar aku,
Aku ingin mengatakan bahwa
Aku menyukai hujan
Namun, katanya…
“Jika menyukainya, tak seharusnya aku menghindarinya
Seperti saat ini”
Di saat hujan turun
Aku lebih suka bernaung di balik atap
Padahal aku bilang--aku menyukai hujan
Sebenarnya, apakah aku salah
Jika aku menyukai hujan tapi menghindar bersentuhan dengannya?
Bukankah menyukai tak selalu harus bersentuhan?
Menyukai hujan, bukan berarti aku harus membiarkan tubuhku basah olehnya
Sungguh, ini bukan tentang kepura-puraan aku menyukai hujan
Aku hanya takut menggigil karena
Perasaanku akan menjadi serakah
Jika aku datang dan memeluk hujan
Maka, aku akan sangat sakit
Jika dia tak sengaja menyakitiku
Lantas, aku akan membenci kehadirannya (lagi)
Biarlah aku bernaung di sini
Sembari melihatnya dari jauh
Hanya dengan begitu sudah cukup membuatku senang
Saat hujan di Kota Malang,
27 November 2017
Terbit juga di Tumblr: einidshandy

PATAH HATI DAN TUHAN

Aku pernah patah hati (berkali-kali)
Lantas, pernahkah kamu patah hati?Aku harap kamu tidak, jangan pernah sesekali patah hati. Karena patah hati hanya makanan mengenyangkan bagi orang-orang kuat. Ya, salah satunya aku--seseorang yang telah kamu patahkan hatinya.

Semakin hatiku patah, semakin aku kuat. Serius! Aku enggak bohong sama kamu. Tapi, tunggu! Sudah berapa perempuan yang kamu patahkan hatinya? Sampai-sampai kamu terlalu hebat dalam mematahkan hatiku. Sudah berapa lama kamu mengasah otakmu untuk mematahkan hati seorang perempuan?

Patah hati kali ini teramat sangat menyakitkan. Belum pernah aku mengenal patah hati yang seperti ini. Namun, aku tak berakhir bunuh diri. Kamu tahu kenapa? Masih banyak mimpi-mimpi yang harus kuwujudkan demi orang-orang yang aku sayangi.

Menyesal? Itu pasti. Tidak mungkin aku tidak menyesali atas kebodohanku sendiri.
Namun, meski ada banyak penyesalan tentang dirimu, berkali-kali aku bersyukur pernah mendapatkan patah hati mematikan darimu. Biarkan aku me…

KARENA LUKA-LUKA DI TUBUHKU

Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka?

Bagaimana aku bisa mempercayai waktu. Apa yang tengah dilakukan waktu untuk menyembuhkan lukaku? Waktu tak melakukan apa-apa untuk menyembuhkan lukaku. Tidak! Tanpa aku, waktu tak kan mampu menyembuhkan luka-lukaku.

Luka-luka ini hanya akan terus menerus berlubang dengan darah berceceran ke lantai dan tanah, jika dibiarkan terus terbuka. Lalu, aku hanya akan kehilangan banyak darah sebelum aku benar-benar hilang kesadaran. Lantas, bagaimana waktu akan menyembuhkan luka-luka ini?

Aku harus menjahit hati ini sendiri.
Maka, malam itu kuputuskan untuk mengambil benang-benang yang jatuh dari langit. Lalu, aku mengambil duri terpanjang dan tertajam yang ada di teras rumah. Lantas, aku mulai menjahit luka-luka di tubuhku--berharap luka-luka ini mengering dan bahkan tak membekas, kalau boleh.

Namun, aku tahu. Luka mana yang akan mengering tanpa bekas? Ia akan terus menjadi tatto yang mengikuti kita.

Setiap kali aku menusukkan jarum berbenang ini, aku tering…

BERHENTI MENCARI CINTA: BUKAN KARENA TELAH MENEMUKANNYA

Seandainya ada yang datang dan aku membukakan pintu hatiku.(I'll ask) "Maukah kamu masuk tanpa pernah pergi (lagi)?"
....

Mencintai tak sesederhana bayangan indah kita, pun demikian dicintai. Namun, bukan berarti mencintai maupun dicintai sesulit itu. Hanya saja, cinta itu sesuatu yang rumit. Ia melibatkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Aku “harus”: tetap bahagia
Sesederhana itu yang aku katakan untuk diriku sendiri dan aku menempelkannya tepat di hatiku. Tidak terlalu berlebihan bukan? Ya, karena hatiku membutuhkan asupan vitamin setiap hari dan itulah vitaminku.

Saat aku melihat diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selain ada aku yang semakin berumur, orang-orang tersayang yang ada di sekitarku pun sama. Tanpa harus melihat KTP mereka--aku tahu, kulit dan rambut mereka mulai kusut seperti uang kertas yang telah berpetualang dari tangan ke tangan.

Maka, aku percaya waktu tidak (akan) pernah berhenti. Bukankah kamu juga menua? Dari sinilah, aku menyadari bahwa aku se…