Cari Aku dan Baca!

Hai kamu di sana, ayo bermain petak umpet denganku dan dunia di sini.
Cari aku dan bacalah aku!
Pilih mana yang ingin kamu
baca dan berjejaklah di kolom komentar agar aku tahu kamu telah menemukanku seperti dunia yang telah menemukanku.
Lalu, aku akan mencarimu di tempatmu berada dan menemukanmu seperti dunia yang telah menemukanmu.
Kalau aku sudah memosting sesuatu yang baru, aku pasti mengunjungi balik duniamu.

Jumat, 25 Januari 2013

Hatiku Cacat Karena Cinta

SIAPA aku? 
Tanya siapa aku? 
Siapa?
Jawab!

Kuhentak-hentakkan hatiku, berharap bisa retak. Biarlah hatiku retak! Biarlah aku tak punya hati. Sepertinya itu akan menjadi lebih baik untukku. Biarlah, biarlah hati ini retak. Cukup aku berhenti memiliki hati ini. Aku tahu, hati ini hanyalah titipan dari Tuhan. Ya, Tuhan yang aku percaya ada. Aku tak berhak memiliki hati ini. Aku tak bisa menjaganya baik-baik seperti yang selama ini kujanjikan pada hati. Tapi, apa nyatanya? Aku telah melukai hatiku sendiri. Luka dalam yang tak bisa kusembuhkan lagi. Tak bisa! Benar-benar tak bisa! 

Tuhan, kukembalikan hatiku pada-Mu.

Lihat! Jangan lihat wajahku. Lihat hatiku, bisakah kau melihatnya? Hati berlumur darah merah, cantik bukan? Ah, indah sekali! Hati yang kucopot sendiri dari tubuhku yang kian mengurus kering karena menahan luka batin. Tahukah kau, bagaimana rasanya luka batin? Ah, paling-paling kau hanya tahu cara melukai batin seseorang. Haha... Dasar pesakitan! Lihatlah, gara-gara ulahmu aku jadi begini. Sekali lagi kau masih menyepelekan luka batinku? Pegang hatiku ini. Kukatakan,"pegang!" Apa kau tak tahu artinya, sayang? Bagaimana rasanya? Cantik bukan hatiku dan betapa lembutnya hati ini. Seolah-olah hati ini ditakdirkan untuk melembutkan jiwaku. Sayangnya, aku tak akan memilikinya lagi. Karena, cacat itu telah bertengger dengan manisnya dihatiku. Ya, cacat yang kau tancapkan di salah satu ujung hatiku. Membuat hatiku tak sehalus saat pertama aku lahir di sini.

Maaf, hatiku tak sempurna - cacat.

Apakah Tuhan masih mau menerima hatiku saat kukembalikan pada-Nya? Oh, tidak! Aku berharap Tuhan masih mau menerimanya, walau sedikit cacat telah menggores hatiku. Goresan cacat itu tak mau beranjak lagi dari tempatnya. Dia telah dengan tenang dan bahagia mengisi sedikit ruang hatiku. Seandainya aku bisa mengeluarkan air mataku lagi, aku akan mengeluarkannya demi hatiku. Tapi, aku benar-benar tak bisa! Aku benci mengurai air mata. Cukup sekali seumur hidupku, semenjak aku bisa menghargai menangis itu seperti apa. Aku tidak akan menangis lagi. Tuhan, maafkan aku tak bisa menangis untuk hati ini. Ini bukan masalah perlu tidaknya aku menangis. Tapi, aku bosan menangis. Bukan karena tampak cengeng. Aku bosan mengurai air mata. Aku tak ingin mataku mengering oleh air mata dan membuatnya ikut cacat seperti hatiku. Bahkan, aku terlalu takut merasakan mata tanpa air sebagai kekasihnya. Seperti, aku takut tanpa hatiku. Tapi, aku tahu aku tak akan bisa hidup berlama-lama lagi dengan hatiku. Karena aku tak mampu menjaganya.

Bolehkan aku memeluk hatiku, untuk sesaat.

Tuhan, masihkah hatiku layak bersanding dengan hati orang-orang pilihan-Mu? Kitab-Mu dan orang-orang di jalan-Mu bilang bahwa Tuhanku maha pemurah.  Mungkin, aku memang bukan siapa-siapa dihadapan-Mu. Hanyalah makhluk ciptaan-Mu yang hanya dapat mengadu nasib pada-Mu. Tiada selain Engkau, Tuhanku. Jika, Kau mau menerima kembali hatiku. Perbolehkan aku memeluknya untuk sesaat, karena aku ingin menghangatkan hatiku sebelum dia kembali dalam tangan-Mu.

Aku bukan siapa-siapa,hanya makhluk yang membutuhkan kebenaran akan kehidupan.

Engkau,
Apakah aku masih harus melanjutkan labuhanku di pulaumu. Tapi, apa yang aku lihat? Engkau telah memberi luka batin yang kini dengan bahagia tinggal dalam hatiku. Ah, betapa tidak mengertinya aku arti kehidupan. Inginku pergi dari pulaumu, melanjutkan pelabuhanku ke pulau lainnya. Tapi, aku tak ingin pergi. Aku ingin selalu bersamamu, sekalipun kau telah memberiku luka batin. Aku harap kau akan mengerti, suatu hari nanti. Hanya mengerti, tanpa perlu merasakan luka batin sepertiku. Karena aku terlalu menyayangimu selama hatiku ada. Bila hatiku tak kumiliki lagi, aku tak tahu. Apakah aku masih bisa merasakan rasa seperti ini. 

Sejauh aku mencari sampai titik lemahku datang,
mungkin aku tetap tak mengerti arti kehidupan.

Hanya menjalani, tanpa perlu menangis.

Apa engkau ingat sebaris kalimat yang selalu kau ucapkan saat bertemu denganku di bawah malam yang memperlihatkan betapa cantiknya bintang-bintang dan bulan menyinari malam. Hanya menjalani, tanpa perlu menangis. Itu yang membuatku bertahan bersamamu, walau luka batin darimu telah menancap di sini. Tanpa aku tahu, kau anggap aku ini apa? Dan sepertinya, aku tak perlu tahu. Biarlah aku menjalani kehidupan bersamamu. Biarlah aku tak kau anggap, tapi aku masih tetap menganggapmu sama. Tak akan aku tanya-tanya lagi, aku tak peduli. Aku hanya memerlukanmu di sini, bersamaku. Wahai cinta? Biarlah aku merasakan cinta walau sakit tak tertanggungkan. Cinta telah mampu menyihirku seperti ini. Cinta, cinta dan cinta. Itulah yang menggoreskan luka di hatiku. Karena aku mampu merasakan cinta yang kuberikan padamu, cinta. Tapi, kau sepertinya tak menyadari akan hal itu. Kau hanya menganggapku boneka yang selalu kau timang, tanpa peduli perasaanku. Aku bukan boneka yang di dalamnya hanya berisi gumpalan busa. Aku punya hati, cintaku.

Dengan hati yang cacat, aku telah dan akan bertahan bersama pembuat hatiku cacat.


**Catatan kecil tentang;
Jatuh cinta,yang kadang memberikan luka tersendiri.
Sehingga, ingin membuang jauh-jauh apa, bagaimana, dan seperti apa jatuh cinta.
Jatuh cinta,yang datang jauh dari hati kecil yang kita miliki.

7 komentar:

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.