Cari Aku dan Baca!

Hai kamu di sana, ayo bermain petak umpet denganku dan dunia di sini.
Cari aku dan bacalah aku!
Pilih mana yang ingin kamu
baca dan berjejaklah di kolom komentar agar aku tahu kamu telah menemukanku seperti dunia yang telah menemukanku.
Lalu, aku akan mencarimu di tempatmu berada dan menemukanmu seperti dunia yang telah menemukanmu.
Kalau aku sudah memosting sesuatu yang baru, aku pasti mengunjungi balik duniamu.

Rabu, 15 Juni 2016

Review Novel: Cantik itu Luka Oleh Eka Kurniawan


Judul: Cantik itu Luka (Beauty is a Wound)
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Umum (GPU)
Cetakan ketujuh Juli 2015
Halaman: 479
ISBN: 978-602-03-1258
Telah diterjemahkn ke bahasa Jepang dan Malaysia, dan segera terbit dalam bahasa Inggris New Directions, New York)

CANTIK itu menyenangkan dan anugrah bagi yang mendapatkannya tanpa harus membeli kosmetik, obat-obatan, atau bahkan operasi plastik. Tapi, novel milik Eka Kurniawan ini menghadirkan bahwa cantik itu tidak selamanya menyenangkan dan anugrah. Mengapa bisa demikian?

“Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik.” (Cover belakang)


Dari sinopsisnya tentu dapat kita tebak bahwa novel ini berlatar sejarah dan dapat kita rasakan sisi feminitas yang ditampilkan oleh Eka sebagai penulis pria yang mengangkat perempuan sebagai tokoh utama.

Berdasarkan dari judul novel, latar sejarah, dan pelacur sebagai tokoh. Sejujurnya, jika kita lihat dari tokoh dan latar—tentu kita sudah biasa melihat maupun mendengarnya karena bangsa kita pada jaman penjajahan sudah akrab dengan sisi kehidupan tersebut. Maka, cantik itu goresan luka bagi pelacur karena dia terlahir cantik dan dampaknya negatif bagi dirinya alias menjadi cantik tidak selamanya anugrah karena pada akhirnya dia menjadi pelacur.


NAMUN, setelah membaca novel ini, aku sampai pada kesimpulan bahwa Eka mampu menggarap novel ini dengan sangat apik sebagai penulis pria yang memilih tokoh perempuan sebagai tokoh utama yang didukung oleh berbagai macam karakter yang tampak nyata dengan ciri khasnya masing-masing.
“…, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kamboja, kencing di celana pendeknya sebelum melolong, dan …” (Paragraf 1, hal 1)

Novel ini dibuka dengan penampilan yang tidak aku duga sama sekali karena seolah-olah novel ini akan membawaku untuk seutuhnya membaca cerita beraliran mistik. Tapi, tidak! Novel ini tidak mengarah ke aliran mistik. Novel ini akan membawa kita pada kehidupan pada masa dulu. Di mana perempuan menjadi korban pada masa peperangan.

Eka menceritakan gadis Indonesia-Belanda bernama Dewi Ayu, gadis yang cerdas dengan paras cantiknya sebagai gadis berdarah campuran. Kehidupannya berlatar di Halimunda, yang pada saat itu dikuasai oleh tentara Jepang dan Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur seperti gadis-gadis lainnya yang memiliki paras cantik.

Dewi Ayu memiliki karakteristik yang berbeda dari gadis-gadis lainnya yang dipaksa menjadi pelacur saat itu, jika yang lainnya menangis ketakutan dan berharap mereka dapat terbebaskan dari kehidupan pelacuran. Maka, Dewi Ayu menghadapi hal tersebut dengan sangat tenang dan bahkan dia telah mengetahui sejak awal bahwa dia akan dijadikan pelacur oleh tentara-tentara Jepang ketika dia dibawa ke rumah Mama Kalong, pemilik rumah pelacuran yang paling terkenal di sana saat itu.

Pada akhirnya, kehidupan pelacuran membawanya pada titik di mana dia menjadi pelacur paling cantik dan paling mahal di Halimunda hingga akhir hayatnya. Dari kehidupan tersebut, dia dikaruniai tiga anak gadis yang tidak diketahui siapa bapaknya. Ketiga anak gadisnya mewarisi kecantikan Dewi Ayu yang membawa tragedi hingga akhirnya pada kehamilan anak keempatnya dia berharap anak tersebut lahir buruk rupa seperti saran dari pembantunya yang bisu, Rosinah, sehingga tidak terjadi tragedi kepada anaknya yang keempat. Benarlah anaknya yang keempat lahir buruk rupa meski ironisnya diberi nama Cantik dan pada kenyataannya di novel tetap membawa tragedi seperti ketiga kakaknya.

Seperti yang aku jelaskan di awal bahwa novel ini dibuka dengan kebangkitan Dewi Ayu dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematiannya yang mengecoh pembaca ke arah novel mistik. Novel ini juga didalamnya terdapat beberapa kejadian mistik lainnya yang secara ajaib turut mengindahkan novel ini. Seperti, tragedi di mana anak pertama Dewi Ayu, Alamanda, yang akan melahirkan bayi, tapi ajaibnya bayi itu tiba-tiba lenyap menjadi angin sebelum hari kelahiran dan hantu-hantu yang berkeliaran di kota, mengganggu penduduk dan membuat sebagian kecil orang-orang hampir gila karena keberadaan hantu-hantu tersebut.

Eka tidak ragu menggambarkan gairah sex pria yang muncul akibat memandang wanita cantik dengan tubuh moleknya. Dia bahkan tidak segan-segan menampilkan masyarakat yang tampaknya ‘mesum’ dengan gaya yang apa adanya. Selain itu, dia juga menampilkan tokoh-tokoh lainnya seperti Sang Shodanco, Kamerad Kliwon, Maman Gendeng, dan lain sebagainya dengan kisahnya masing-masing namun tidak membuat kita melupakan bahwa novel ini berawal dari Dewi Ayu yang membawa tragedi.

Eka Kurniawan merajut novel ini dengan gaya yang sangat klasik, tempo lambat, alur maju-mundur yang sangat kuat, hampir tanpa jeda yang membuat pembaca, termasuk aku, seperti sedang marathon tanpa mendapat kesempatan mengambil napas. Namun, Eka memiliki gaya penuturan yang tampak sepadan dengan masa yang diceritakan. Sehingga membuatku setuju bahwa cantik itu tidak selamanya menyenangkan atau cantik itu tidak selamanya anugrah. Sebab cantik itu luka.
“Sebab cantik itu luka.” (Kalimat terakhir, halaman 478)

32 komentar:

  1. Belum baca sih, tapi kalau yang nulis Eka Kurniawan sudah pasti bagus...dan erotik hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kenal karyanya Eka ya? Pernah baca buku yang judulnya apa?

      Hapus
  2. wih , ini review novel baru yak? udah diliat dari ceritanya pasti keren kali :v tapi ada alur maju mundur , nya yg bikin aura mistisnya dapet ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novel lama Kak... pertama terbit desember 2002.
      Cuma baru baca awal tahun ini dan baru bulan ini sempat nulis reviewnya.

      Hapus
  3. iya lho sepintas kayak ada mistik2nya gitu
    sepertinya novelnya menarik nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi sama sekali gak ada mistik-nya kok Kak.
      Kalau tertarik silahkan dibaca Kak.

      Hapus
  4. Wah kayanya bagus tuh, banyak pelajaran yag bisa diambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak.
      Keren ceritanya. Silahkan dibaca jika suka.

      Hapus
  5. Uwaaaaaa bang Eka Kurniawan emang keren deh.
    Dulu pernah organisasi penulis aku, hampir ngundang bang Eka buat jadi pembicara. Tapi sayangnya gagal. Huhuuuuu
    Padahal kesempatan emas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaach... Sayaang, kok gagal? Coba jadi... Pasti keren.
      Tapi, aku baru saja ketemu dia.

      Hapus
  6. buku eka kurniawan aku belum pernah baca
    tapi biasanya kalo dari segi sudut pandang penulis laki laki, penggambaran bagian sex-nya juga alami sih hihi
    jadi penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan baca Kak kalau tertarik.

      Hapus
  7. Ngebaca karakter Dewi Ayu ini, kayanya dia punya karakter yang mirip Daisy Buchanan, tokoh wanita di novel The Great Gatsby.

    Apalagi quote nya agak-agak mirip. Bedanya, Daisy berharap anak perempuannya terlahir sebagai wanita bodoh. Nice review :)

    Wah kayanya rame nih novel. Beli ah di tukang tajil.. Kali aja ada...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aku ngga tahu novel itu. Terima kasih Kak.

      Hihihi... di tukang takjil adanya takjil aja deh kayaknya.

      Hapus
  8. Dari awal lihat bukunya di toko udah tertarik sih, tapi masih belom kuat keinginan buat baca. Habis baca review jadi beneran pingin baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...
      Aku malah awalnya ngga tertarik sama sekali. Tapi begitu baca, sumpah... luar biasa keren.

      Hapus
  9. aslinya sih genre yg biasa aku baca beda sama yg sperti ini.
    cuman, habis baca review jdi ingin nyoba baca!

    mkasih mbak reviewnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...
      Aku tahu genre yg kamu maksud.
      Hati2 kepala pusing baca ini novel. Hati2 jadi shocked.

      Sama2 mas.

      Hapus
  10. Wah, benar juga sih kalau dipikir dua kali bahwa cantik itu bisa jadi bukanlah sebuah anugerah melainkan sebuah luka. Apalagi hingga dijadikan seorang pelacur seperti itu. Jadi teringat novel ayat-ayat cinta 2, di sana aisyah sampai menggoreskan paras wajah cantiknya ke dinding supaya tak dijadikan budak seks.

    Semangat mereview buku buku selanjutnya ya! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menjadi cantik memang suatu kebanggaan tapi juga kalau berakhir menyedihkan juga jadi suatu bencana.

      Terima kasih. Ditunggu saja ya kak.

      Hapus
  11. wow infonya keren kak.. kalau ingin tahu tentang cara membuat website yukk disini saja.. terimakasih

    BalasHapus
  12. Kalau untuk buku yang ini sepertinya saya belum pernah baca soalnya pas kemarin dicari belum ada berarti belum pernah baca seperti bisa dicoba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cari di mana Kak?
      Di toko buku masih ada lhom
      Banyak pula.

      Hapus
  13. Duuuh, Eka Kurniawan ya penulisnya? Nggak usah diragukan lagi deh ya :D pasti keren :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah baca karya Eka ya?
      Iya, gak ragu bacanya.

      Hapus
  14. belum baca, tapi dari riviewnya udah menarik banget jadi pensaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk baca Kak kalau tertarik.€

      Hapus
  15. Kemarin liat ini di perpustakaan kota. Tapi besoknya pas mau minjem, udah dipinjem org lain :(
    Jd makin tertarik utk baca setelah liat reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar. Sabar. Itu tandanya kamu disuruh baca yang lain dulu atau mau aku pinjami? Aku punya. ;)
      Keren ceritanya.

      Hapus
  16. ceritanya menarik ya saya suka judul dan ringkasan dari belakang bukunya pun. tapi saya pribadi kurang suka berbau sejarah , kalau mistik masih oke. cuma kayanya kok jadul amat kalau ada unsur sejarahnya walau memang menggambarkan jaman dahulu udah ada kasus pelacur seperti sekarang2 ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapz, pelacuran dari dulu hingga sekarang sebenarnya selalu. Hanya saja yang ditampilkan novel ini lebih kepada bagaimana dengan 'keterpaksaan' menyajikan kehidupan masa itu (sejarah) serta sisi di mana 'bagaimana ia menghadapi keterpaksaannya' dengan berbagai sikap kegilaannya di masa itu.

      Tapi, it's okay! Setiap orang memiliki point of view dan kegemaran yang beda-beda.

      Hapus

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.