Cari Aku dan Baca!

Hai kamu di sana, ayo bermain petak umpet denganku dan dunia di sini.
Cari aku dan bacalah aku!
Pilih mana yang ingin kamu
baca dan berjejaklah di kolom komentar agar aku tahu kamu telah menemukanku seperti dunia yang telah menemukanku.
Lalu, aku akan mencarimu di tempatmu berada dan menemukanmu seperti dunia yang telah menemukanmu.
Kalau aku sudah memosting sesuatu yang baru, aku pasti mengunjungi balik duniamu.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Without a Teacher, I’m not like Today

“What do you do now?”
“I work at office. What’s your job?”
“Great! Well, I’m a Doctor.”
“Really? I should visit you if I’m sick.”
“Haha… You must.”
“Back to the time we were students, both of us were really naughty.”
“But, I remember one of our teachers has never been bored reminding us to be good people.”

So, what do you work now? Or are you still a student?
Ingat! Kamu bisa sampai di titik sekarang itu selain karena orang tuamu, ada orang tua kedua—yes, your teacher. Kamu tanpa mereka, kamu tidak akan bisa di titik sekarang. Meskipun sekarang kamu masih sekolah ditingkat yang lebih tinggi, kerja, atau hanya di rumah. Siapapun kamu? Apapun yang kamu lakukan? Entah itu jadi Pedagang Kaki Lima (PKL), tukang parkir, atau bahkan jadi orang hebat di dunia ini.

My students are in SMPN 2 Batu

Berterima kasihlah kepada gurumu.
Dulu kamu tidak bisa membaca, tapi guru mengajarimu. Dulu kamu tidak bisa menghitung, guru mengajarimu. Dulu kamu tidak tahu mana baik atau buruk, guru pun yang mengajari. Tidak ada yang kurang dari yang mereka ajarkan untukmu.

Tanpa guru, mana mungkin kamu bisa membaca hal-hal yang kamu temui di jalan, padahal sekarang itu banyak sekali hal penting di jalan. Tanpa guru, mana mungkin kamu bisa menghitung uang, padahal kamu bekerja untuk mendapatkan uang atau juga membelanjakan uangmu.
 
My boys students are in SMILE, Kampung Inggris, Pare
Have the teachers ever been wrong or angry?
Yes, sometimes. Mereka juga manusia, sama seperti kita. Jadi jangan mengharapkan mereka perfeksionis di segala hal.

Guru pasti pernah melakukan kesalahan, wajar saja. Mereka manusia, kita pun manusia. Manusia tidak pernah bisa menjadi sempurna karena sempurna hanya milik Tuhan. Kita juga pernah melakukan kesalahan (bahkan banyak yang disengaja). Tapi mereka memaafkan kita, kenapa kita tidak mau? Maka, saling memaafkan akan mendamaikan hati kita.

Guru pasti pernah beberapa kali marah, itu juga wajar. Mereka manusia, kita pun manusia. Manusia memiliki macam-macam emosi. Mereka pernah marah bukan tanpa alasan. Jika bukan karena kita yang bandel, mereka tidak mungkin marah. Maka, ikuti gurumu jika memang itu baik untukmu.
 
My girls students are in SMILE, Kampung Inggris, Pare
For my beloved Parents in Indonesia…
Jika anda menyekolahkan anak-anak anda, seharusnya anda mempercayakannya kepada guru-guru. Jika anda tidak bisa mempercayakan guru-guru, kenapa bukan anda saja yang mengajarinya di rumah atau kenapa bukan anda saja yang menjadi guru anak-anak anda di sekolah?

Nowadays, banyak sekali anak-anak yang tidak sekolah tapi bisa menjadi anak-anak hebat kok. Jadi tidak perlu menyekolahkan anak-anak anda jika anda sendiri tidak bisa mempercayakan anak-anak anda kepada guru. Mau bukti? Ada Musa, ada tiga saudara juga Enes, Ara, dan Elan, dan masih banyak lagi.
Anda mau juga? Tidak masalah! Tidak ada larangan tidak menyekolahkan seorang anak.

Namun, jika anda merasa tidak mampu, anda pasti menyekolahkannya kan? Jika iya, maka percayalah guru-guru di sekolah tersebut. Merekalah orang tua kedua (setelah anda) untuk anak-anak anda.

Jika anda dipanggil ke sekolah secara tiba-tiba…
Anak anda lapor bahwa dia diperlakukan tidak adil…
Atau resiko lain sebagainya.

Anda sebagai orang dewasa tentu sudah pernah mendapat pendidikan etika. Pastikan anda tidak datang dengan keadaan emosi, itu hanya akan mempermalukan diri anda sendiri. Bagaimana tidak? Anda akan terlihat tidak berpendidikan. Kenapa begitu? Orang berpendidikan tidak seperti itu ketika menghadapi permasalahan!
 
Criticism from my students
“Lalu, apa yang mesti saya lakukan?” Tanya anda.
Datang dengan sopan, bertanya masalahnya dengan tenang, tanyakan kepada anak anda dan guru yang bersangkutan dengan tenang. Telusuri sampai anda benar-benar menemukan jawaban yang sesungguhnya. Jika perlu, tanyakan kepada guru-guru lain.

Apa saja yang perlu ditanyakan? Tanyakan alasannya kepada anak dan guru. Tidak yakin? Tanyakan juga kepada saksi. Tidak yakin juga? Tanyakan latar belakang guru kepada guru-guru lain termasuk kepala sekolah. Pihak sekolah pasti siap membantu.
A card from my students. Thank you students.
Tidak perlu membuat sinetron kehidupan dengan marah-marah ke sekolah atau memukul guru di sekolah meskipun kita tinggal di Indonesia yang uniknya setiap menjelang malam kita mendapat hiburan sinetron dari televisi. Ingat, itu hanya hiburan! Bukan untuk ditiru meski tidak ada tulisan “berbahaya! Jangan ditiru di rumah tanpa didampingi profesional.”

Tinggal di Indonesia memang ada saja hal lucu yang terjadi. Salah satu hal lucunya fenomena orang tua menuntut guru atau orang tua memukul guru.

Without a teacher, we aren’t like today!


Jika anda menyekolahkan anak anda, percayakan anak anda kepada guru!

22 komentar:

  1. sangat sangat sangat setuju ibu guru, siswa kek gitu udah nunjukin juga gimana sifat orangtuanya dirumah, karena kan buah jatuh gak mungkin jauh dari pohonnya dong. Jadinya, kalo siswa tak kenal moral, orangtua dirumah juga patut dipertanyakan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kakak. Itu yang menjadi tanda tanya.
      Namun, semoga dengan adanya cerita ini... Orang tua di Indonesia bisa lebih baik dalam mengasuh anak-anaknya.

      Hapus
  2. Kampung Inggris, Pare ... pernah baca dan dengar tentang tempat ini. Berharap suatu ketika bisa datang ke sini. Pingin lihat langsung bagaimana proses language acquisition nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Datang saja kak suatu saat!
      Biar bisa tahu seperti apa sih kampungnya.
      I can be a good guide for you if you need it.

      Hapus
  3. Powerful banget cara penyampaiannya.

    Yes I know what you feel. Saya lahir dalam keluarga yang isinya guru semua. Mulai dari bapak mamah, paman, tante, sepupu. Selain itu, saya juga mantan pelajar, yang (dulu) bertatap muka dengan guru 5 hari dalam seminggu.

    So, Don't underestimate teachers!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you kakak... :)
      Maklum, ngetiknya dari hati. *ciee

      Woooh, kereen! Di rumah aja cuma Daddy, tapi sudah mengerikan setiap hari. Apalagi ada lima guru?
      Terus kakak jadi guru juga sekarang?

      Hapus
  4. Betul sekali kita menyekolahkan anak kita berarti kita harus yakin dan percaya terhadap guru yang akan menjadi orang tua kedua, dan kalau guru berbuat salah pun harus wajar karena mereka juga kan manusia jangan main hakim sendiri padahal guru itu pekerjaan yang mulia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, dibandingkan main hakim sendiri, alangkah baiknya menyelesaikannya dengan musyawarah. Kalau memang tidak bisa diatasi, baru laporkan ke pihak yang berwenang agar dapat diadili dengan benar.

      Hapus
  5. Owooh ini panjenengan guru ya? Salim dulu pak.

    Yap guru tanggung jawab nya gede, perannya gede, gajinya < profesi lain.
    Salut sama guru.
    Dan miris juga kasus kemarin yg dikeroyok ortu dan murid. utekke Nang ndi. Hhh.

    Kayane pak guru cara ngajar nya enak nih, sampe2 muridnya pada ngirimin kartu gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, guru. Hehehe...
      Ah, biasa saja kok... Meski guru, aku berusaha menjadi teman untuk murid-muridku.

      Hal yang miris. Terutama bagaimana melihat orang tua yang rasanya belum siap menjadi orang tua.

      Hapus
  6. Aku pun punya cita-cita jadi guru, gara-gara pernah dilempar guru pake spidol. Terus pengen aja ngebuktiin cara ngajar bisa dilakuin nggak seanarkis itu. :)) Tapi, emang waktu itu aku lagi dodol aja. Hahaha, makanya dilempar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman dulu guru memang kebanyakan seperti itu sikapnya. Namun, seiring berjalannya waktu, metode mengajar dan cara menyikapi siswa sudah berbeda.

      Wah... kayaknya waktu itu emang kamunya saja ya yang dodol?

      Hapus
  7. Keren, keren. Tulisan Anda sukses membuat saya untuk lebih respect lagi dengan guru-guru saya. Thank you for your post :)

    BalasHapus
  8. Miris memang sama kejadian itu
    Ckck

    Dulu juga aku cita cita nya jadi guru
    Tapi karena permasalahan jurusan, kayaknya aku bakal jadi dosen aja deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dosen dan guru memiliki tugas yang sama kakak. Sama2 menjadi pengajar dan pendidik lho. Cuma beda 'umur' saja yang menjadi siswa kita.

      Semoga tercapai ya kakak cita2nya!^^

      Hapus
  9. guru pahlawan tanpa tanda jasa :)

    BalasHapus
  10. guru adalah orang tua kita slama di skolah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, benar kakak.
      Tanpa guru, kita juga tidak bisa menjadi lebih baik.

      Hapus

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.