BERHENTI MENCARI CINTA: BUKAN KARENA TELAH MENEMUKANNYA

Seandainya ada yang datang dan aku membukakan pintu hatiku.
(I'll ask) 
"Maukah kamu masuk tanpa pernah pergi (lagi)?"
....

Mencintai tak sesederhana bayangan indah kita, pun demikian dicintai. Namun, bukan berarti mencintai maupun dicintai sesulit itu. Hanya saja, cinta itu sesuatu yang rumit. Ia melibatkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Aku “harus”: tetap bahagia
Sesederhana itu yang aku katakan untuk diriku sendiri dan aku menempelkannya tepat di hatiku. Tidak terlalu berlebihan bukan? Ya, karena hatiku membutuhkan asupan vitamin setiap hari dan itulah vitaminku.

Saat aku melihat diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selain ada aku yang semakin berumur, orang-orang tersayang yang ada di sekitarku pun sama. Tanpa harus melihat KTP mereka--aku tahu, kulit dan rambut mereka mulai kusut seperti uang kertas yang telah berpetualang dari tangan ke tangan.

Maka, aku percaya waktu tidak (akan) pernah berhenti. Bukankah kamu juga menua? Dari sinilah, aku menyadari bahwa aku seharusnya telah menemukan cinta dari beberapa waktu yang lalu atau saat ini.

Dan, apakah aku telah menemukan cinta? Tidak! Tepatnya belum.
Aku berhenti mencari cinta, bukan karena aku telah menemukannya. Aku berhenti karena aku telah lelah mencari. Jika, manusia memiliki titik sabarnya, titik jenuhnya, bahkan titik lelahnya. Saat inilah aku mengalami semua itu. Aku telah berada di titik-titik tersebut.

Namun, aku tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menjelaskan keadaanku kepada orang-orang yang aku sayangi juga kepada mereka yang memburuku--seolah cinta adalah segalanya. Semakin aku menua, semakin aku takut mengecewakan orang-orang yang aku sayangi. Aku juga takut membuat mereka mengalami perisakan dari lingkungan sekitar.

Bagaimana denganku, bukankah aku juga akan mengalami perisakan juga? Tentu saja aku mengalaminya dan bahkan sudah dari lalu-lalu aku mengalaminya. Hanya saja, mungkin orang-orang tidak menyadarinya karena aku hanya tersenyum menanggapinya.


“Hey, congratulations ya!”
“Thanks. Kamu kapan nyusul? Segera nikah, jangan berkarir terus.”
“Iya nih, keburu tua.”
“Calonnya mana, kok nggak dibawa?”

Aku tersenyum dan menjawab dengan aneka ragam alasan. Padahal, kamu tahu? Saat orang-orang melakukannya, mereka sedang menghunuskan pedang ke hatiku. Jangan begitu caramu peduli padaku! Kenapa kamu enggak membantu mencarikanku cinta? Bulshit tentang mendoakanmu bahagia, jika kamu pada akhirnya mulai menikmati betapa utuhnya kebahagiaanmu dengan membagikannya di media sosial. Mulai dari menikmati bulan madu, kehamilan, memiliki bayi, dan sampai bayi-bayimu mulai pintar berhitung atau membaca.

Tidakkah kamu tahu, di antara kebahagiaanmu yang kamu umbar-umbar, masih ada segelintir orang-orang yang teriris-iris hatinya ketika melihatnya. Persetan dengan tombol like atau love.

Toh, kamu hanya melupakan segelintir kami yang masih belum menemukan cinta. Hanya orang-orang dari golongan kamilah yang mengerti keadaan kami sendiri. Maka, kami tak pernah mencoba-coba menghunuskan pedang di antara kami. Karena kami tahu? Itu sama halnya mencoba melukai diri sendiri.

Alangkah lebih baiknya, saling berbagi luka. Karena kami tahu, sesama kami tidak bisa saling mengobati luka kami. Andaipun bisa saling mengobati luka, tentu hanya beberapa di antara kami yang berakhir menikah bersama. Aku berhenti mencari cinta, namun aku akan menerima--jika ada yang ingin mengobati lukaku, dan aku akan mengobatinya lukanya juga.

Meski ada segelintir dari kami, kami enggak benar-benar bisa bilang bahwa kami bisa mendukung satu sama lain. Ada kalanya, masing-masing dari hati kami ada perasaan ketakutan-ketakutan bahwa golongan kami akan semakin sedikit dan sedikit, dan berakhir dengan hanya ada aku yang tertinggal.

Bagaimana jika demikian adanya? Aku harap tidak, bukan aku. Jangan aku yang tertinggal! Tepatnya, jangan sampai ada yang tertinggal.


Saat ini…
Aku berhenti, bukan karena aku telah menemukannya.
Aku tak lagi berjalan mencari cinta, untuk apa jika pada akhirnya aku tersakiti lagi dan lagi? Hanya akan menambah luka saja.

Pagi itu di Kota Malang,
19 Maret 2018

Terbit juga di Tumblr: einidshandy

Komentar

  1. Kadang mencintai seseorang adalah dengan membiarkan dia pergi dari hidupmu.

    BalasHapus
  2. Duhhh dalemm yaa kalau nulis tentang cinta... Keren 👍

    BalasHapus
  3. Hanya orang-orang dari golongan kamilah yang mengerti keadaan kami sendiri.
    i know thats feel, bruh

    sekitar cuma bisa memberondong dengan pertanyaan. tanpa sadar, pertanyaan itu jadi peluru yang kerap menembus tubuh
    :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: "O" Karya Eka Kurniawan

Review Novel: Cantik itu Luka Oleh Eka Kurniawan

Indie Movie: Aku Gadis Indonesia – Karya Pertama