KARENA LUKA-LUKA DI TUBUHKU

Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka?


Bagaimana aku bisa mempercayai waktu. Apa yang tengah dilakukan waktu untuk menyembuhkan lukaku? Waktu tak melakukan apa-apa untuk menyembuhkan lukaku. Tidak! Tanpa aku, waktu tak kan mampu menyembuhkan luka-lukaku.

Luka-luka ini hanya akan terus menerus berlubang dengan darah berceceran ke lantai dan tanah, jika dibiarkan terus terbuka. Lalu, aku hanya akan kehilangan banyak darah sebelum aku benar-benar hilang kesadaran. Lantas, bagaimana waktu akan menyembuhkan luka-luka ini?

Aku harus menjahit hati ini sendiri.
Maka, malam itu kuputuskan untuk mengambil benang-benang yang jatuh dari langit. Lalu, aku mengambil duri terpanjang dan tertajam yang ada di teras rumah. Lantas, aku mulai menjahit luka-luka di tubuhku--berharap luka-luka ini mengering dan bahkan tak membekas, kalau boleh.

Namun, aku tahu. Luka mana yang akan mengering tanpa bekas? Ia akan terus menjadi tatto yang mengikuti kita.

Setiap kali aku menusukkan jarum berbenang ini, aku teringat bagaimana sayatan luka ini terjadi pada saat itu. Maka, saat seperti inilah aku membenci pernah mencoba untuk berlarian dalam kebahagiaan semu.

Berkali-kali aku terjatuh dengan kebahagiaan semu yang aku ciptakan.
Berkali-kali pula aku membuat luka di tubuhku ini.
Sampai luka-luka ini menyiksaku dalam rasa sakit yang teramat sakit dan panjang.

Andai aku tidak pernah sebodoh itu, mungkin aku tak akan pernah membuat luka pada tubuhku--bahkan sampai berkali-kali. Karena luka-luka inilah aku sering kali membenci diriku sendiri. Mengapa aku pernah begitu percaya pada rayu gombal para laki-laki?

Semakin bertambah umur seorang laki-laki, bukannya semakin baik ia. Tapi, semakin pandai ia merayu gombal untuk melukai hati perempuan. Oleh sebab itu, jangan sesekali kamu pernah percaya dengan rayu gombal para lelaki. Bisikku beberapa kali sambil menusukkan jarum ini kuat-kuat pada tubuhku--mengingatkanku pada setiap lelaki yang pernah membuatku merasakan kebahagiaan semu.

Aku terluka. Lalu, datang seorang laki-laki lain yang kemudian menyembuhkan lukaku. Lantas, ketika luka ini telah kering. Tiba-tiba ia menusuk lukaku lagi dengan lebih lebar. Lalu, ia pergi meninggalkanku yang terluka.

Kemudian, datang lagi seorang laki-laki lain. Yang ia lakukan pun sama dan lagi-lagi ia menusuk lukaku yang telah ia obati. Lagi-lagi, ia pergi meninggalkanku yang terluka.

Begitu dan begitu lagi. Sampai aku menyadari luka-luka di tubuhku sudah sebanyak dan selebar ini. Dan luka-luka ini benar-benar menyakitiku. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku dengan luka-luka di tubuhku ini.

Ingin mati rasanya karena luka-luka di tubuh ini. Namun, aku tak jadi memutuskan mati. Aku masih memiliki Tuhan. Aku masih memiliki orang-orang terkasih di sekitarku. Maka, aku menjahit luka-luka di tubuhku ini.

Luka-luka ini telah menutup.
Namun, belum mengering sepenuhnya.
Kapan ia akan mengering?
Entah…
Waktu pun tak tahu kapan luka di tubuhku mongering.
Pada pagi menjelang siang di Kota Malang, 19 Maret 2018

Terbit juga di Tumblr: einidshandy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: "O" Karya Eka Kurniawan

Review Novel: Cantik itu Luka Oleh Eka Kurniawan

Indie Movie: Aku Gadis Indonesia – Karya Pertama