HALO PATAH HATI

Entah, ini mungkin takdir…
Kita bertemu di persimpangan jalan karena cinta. Kamu yang dipenuhi dengan warna pudar, tiba-tiba menabrakku yang tengah berlari dalam tangis, dan aku jatuh terduduk dengan rambut tergerai ke depan. Menutupi seluruh wajahku.

Lalu, katamu “maaf, aku tak sengaja...”

Aku hanya sesenggukan mendengar kata-katamu. Air mata ini semakin berjatuhan seolah saling balapan jatuh ke ubin. Bagaimana bisa kamu dengan aura sedihmu masih sempat meminta maaf padaku. Bagaimana dengan ia?

“Maaf, aku patah hati.” Kamu ulurkan tangan kananmu, berharap aku menyentuhnya dan berkata, “halo Patah Hati, kenalkan, aku....” Tidak! Mana mungkin aku akan dengan senyum manis mengatakan hal itu. Pun demikian mereka, siapa sih yang mau kenal Patah Hati?

BENTAR! Siapa sih yang pernah mengenalmu dengan baik, Patah Hati? Siapa sih yang mau bersahabat denganmu, Patah Hati? Hastaganaga… Kukira hanya orang-orang gila karena cinta yang mau dengan sepenuh hati mengenalmu. Gila saja! Ngapain sih? Jelas-jelas lebih menyenangkan mengenal Cinta. Ya, cinta yang memiliki aura kebahagiaan.

Lihat dirimu! Bercerminlah. Tubuhmu bau. Warna bajumu bahkan pudar, pucat, dan entah warna apa. Di bilang warna hitam, bukan. Putih, apalagi? Abu-abu? Entahlah, mungkin dulu. Bahkan, kamu juga begitu jelek. Punya kantong mata. Serta ingusan. Rambut pun tak terawat. Masih mending sapu milik Ibuku, dari pada rambutmu.

“Maafkan aku...”

Sekali lagi, aku mendengar dan perlahan aku mendongak. Melihatmu yang tersenyum samar penuh penyesalan. Aku tak tahu harus berbuat apa selain hanya menatapmu. Lantas, seolah kamu mengatakan “Maaf, kamu jadi mengenalku.”

Entah, aku bingung… Aku kalut. Aku lelah. Aku benci. Aku sedih. Aku marah. Dadaku bahkan terasa sesak sekali.

Bahkan, aku menyesal. Kenapa aku harus bertemu denganmu, Patah Hati? Kenapa? Kenapa aku harus mengenal Patah Hati setelah mengenal Cinta?

“Pergilah!” Rintihku, memohon padamu untuk meninggalkanku duduk sendiri di tengah keramaian yang sunyi. Aku terlalu malu dan lelah untuk sekedar berdiri dan berjalan di tengah hingar bingar manusia dalam kotak kenyamanan ini.

“Tidak! Bukannya aku ingin tinggal, kamu yang membuatku tinggal.”

Bagaimana bisa aku yang membuatmu tinggal? Aku menatapmu penuh kemarahan. Kenapa aku harus? Aku tak mau mengenalmu yang penuh warna kesedihan. Terlalu mengerikan untuk mengenalmu. Aku berteriak marah seketika karena hatiku tersayat semakin dalam.

“Please, tinggalkan aku!” Pintaku pada akhirnya memohon.

Namun, kamu bersikeras mengatakan bahwa akulah yang membuatmu tinggal di pojok hatiku. Bagaimana bisa aku yang membuatmu tinggal? Buat apa?

Lantas, aku menatapmu ragu… Mungkinkah ini memang takdir. Mungkinkah kamu adalah satu makhluk yang harus aku kenal, sebelum aku benar-benar bertemu cinta yang sesungguhnya.

“Halo Patah Hati…” Bisakah aku berteman denganmu?


Terbit juga di Tumblr: Einid Shandy

Komentar

Posting Komentar

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: "O" Karya Eka Kurniawan

Review Novel: Cantik itu Luka Oleh Eka Kurniawan

Review: FOR ONE MORE DAY BY MITCH ALBOM