SAAT ORANG-ORANG MENGENANG TERORIS

Aku dan orang-orang tak mengenalmu, tapi kami mengenangmu…


Detik-detik ketika bom itu meledak, orang-orang mulai berhamburan seperti serpihan kertas di atas meja. Tampak pada raut wajah mereka ada ketakutan, kesedihan, dan seribu tanya yang menyelimuti. Mengapa tiba-tiba ada bom bunuh diri? Apa salah kami? Bahkan tak sedikit yang tiba-tiba menangis sembari mencari sanak saudara mereka. Matahari tak lagi terhiraukan keberadaannya. Sinarnya terkalahkan oleh sisa-sisa ledakan bom yang telah menghancurkan sebagain besar pusat kota. Bahkan, belum usai perasaan-perasaan takut dan sedih, telah disusul oleh ledakan bom berikutnya di sudut lainnya.


Banyak dari mereka kehilangan yang dicintainya, padahal sebelumnya, mereka tertawa riang gembira melewati waktu bersama. Banyak dari mereka yang pada akhirnya takut dan bahkan sebagian besar anak-anak menjadi trauma.


Apakah bagimu itu Jihad? Membuat orang-orang takut, menangis, trauma, bahkan tak lagi percaya pada orang-orang di sekitarnya--khususnya, mereka yang berjilbab, bercadar, maupun memanjangkan jenggot atau bercelana cingkrang.


Jujur, aku tak banyak tahu tentang Islam, meski aku termasuk satu di antaranya. Tapi, yang aku tahu, Islam mengajarkan keindahan. Bahkan tanpa aku mencari tahu tentang Islam, aku menemukan banyak keindahan yang datang dari Islam. Mulai dari saling tolong menolong tanpa melihat siapa yang ditolong dan menolong, tidak ada kekerasan, sampai benar-benar menghargai serta menghormati wanita.


Lantas, apa yang ingin kau dapatkan setelah meledakkan dirimu bersama bom? Bagaimana kami bisa tahu keinginanmu, ketika kamu telah hancur berkeping-keping.


Tidakkah kamu merasa ternodai, kamu juga membunuh sebagian dari teman-teman, saudara-saudara, guru, bahkan orang tua kami kami? Mereka, orang-orang yang tidak tahu apa-apa, pada akhirnya pergi meninggalkan kami dengan keadaan yang benar-benar tak pernah kami bayangkan sebelumnya.


Dan betapa jauh berbeda yang aku lihat. Kamu bahkan tega memasang bom di tubuh anak-anakmu. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati waktu mereka dengan belajar dan bermain bersama teman-temannya. Anak-anak yang seharusnya masih menggapai cita-cita mereka di masa depan. Padahal, yang aku tahu, Islam itu penuh dengan kelembutan dan keindahan dalam merawat anak-anak.


Namun, apa yang kamu lakukan telah memberi dampak buruk pada anak-anak lain yang tadinya tampak ceria, berani, dan penuh percaya diri menatap masa depan mereka. Ya, mereka kini trauma. Tak tahukah kamu, luka batin lebih menyakitkan dari pada sekedar luka fisik.


Jangankan anak-anak, aku yang sudah sedewasa ini pun kini takut. Takut melihat orang-orang yang berpakaian sepertimu juga teroris, padahal belum tentu mereka teroris. Semoga. Semoga mereka bukan teroris dan semoga tidak ada lagi teroris di negeriku yang kucinta. Semoga Pancasila tak sekedar kata-kata, semoga ia benar-benar ada di hati kita.


Hey Teroris,
Hidup itu berbagi, termasuk berbagi bumi ini
walau kita berada di bawah atap yang beda.
Apa yang kamu harapkan dari kami untuk mengenangmu?
Tidak ada, selain kamu menjadi kenangan buruk kami yang tak akan kami lupakan.
Siapa kalian? Berani sekali menghancurkan hidup kami.
Siapa kalian? Berani sekali datang menjadi kenangan terburuk kami

Terbit juga di TUMBLR: einidshandy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: "O" Karya Eka Kurniawan

Review Novel: Cantik itu Luka Oleh Eka Kurniawan

Review Film: Dead Poets Society by Peter Weir